Pertamina Target Turunkan 34 Ribu Ton Emisi Karbon di 5.000 GES

PT Pertamina terus berusaha menurunkan emisi karbon. Salah satu strateginya dengan memanfaatkan energi hijau.

Pertamina mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Green Energy Station (GES) yang tersebar di berbagai wilayah. PLTS ini telah terpasang di 76 titik GES yang berlokasi di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. PLTS ini akan dikembangkan di wilayah lain, dengan target 5.000 titik.

GES adalah konsep baru SPBU Pertamina. SPBU memberikan layanan terintegrasi untuk mendukung gaya hidup yang lebih ramah lingkungan bagi konsumen SPBU. Caranya dengan memanfaatkan Solar Photo Voltaic (PV) atau PLTS sebagai salah satu sumber energi mandiri dan ramah lingkungan.

“Proyek ini adalah bagian dari transisi energi di ekosistem Pertamina. Kami menargetkan pemasangan PLTS di internal Pertamina, baik di proses inti, perkantoran, maupun fasilitas lainnya,” ujar Chief Executive Officer PNRE, Dannif Danusaputro.

“Selain itu, kami berupaya agar SPBU sebagai salah satu frontline Pertamina juga terpasang PLTS untuk mendukung dekarbonisasi,” lanjut Dannif.

Dannif mengatakan, program ini kelanjutan dari tahun 2020. Pemasangan PLTS telah dilakukan di 63 SPBU Pertamina yang tersebar di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, dengan total kapasitas sebesar 385 KWp. Dengan target 5.000 PLTS terpasang di SPBU, total kapasitas terpasang sekitar 31 MW dan potensi penurunan emisi karbon mencapai 34 ribu ton per tahun.

Menurut Dannif, pemanfaatan PLTS di SPBU meningkat secara global. Sebagai ilustrasi, setidaknya ada 700 SPBU di 29 negara Afrika menggunakan PLTS atap. Di India telah terpasang PLTS dengan total kapasitas 270 MWp dan pemerintahnya menargetkan 50 persen dari seluruh SPBU yang ada di negaranya memasang PLTS dalam 4 tahun mendatang. Dengan tren ini, sudah sewajarnya Pertamina secara aktif mengerahkan upaya terbaik untuk menghijaukan SPBU.

Karena itulah, Pertamina mendukung target pemerintah untuk menurunkan emisi karbon sebesar 29 persen pada tahun 2030 melalui transisi energi. Dalam roadmap transisi energinya, Pertamina menargetkan energi hijau mencapai 17 persen dalam portofolio bisnis pada 2030.

“PNRE akan terus tancap gas untuk transisi energi. Kita melihat bahwa pengembangan energi bersih, termasuk PLTS, adalah investasi masa depan agar laju dampak perubahan iklim dapat ditahan dan secara bersama-sama semua pihak berkontribusi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi generasi mendatang,” jelas Dannif.

Dannif menuturkan, aspek ESG (environment, social, and governance) terintegrasi dalam bisnis Pertamina. Pertamina berupaya menjalankan bisnis secara bertanggung jawab dan berkelanjutan yang tidak hanya mengedepankan kepentingan bisnis tapi juga kebutuhan para pemangku kepentingan, masyarakat, dan kelangsungan lingkungan hidup.

 


Komentar